Evakuasi Kebakaran Gedung Bertingkat: Risiko dan Solusinya

Evakuasi kebakaran gedung bertingkat disulitkan oleh banyak hal. Mulai dari struktur bangunan, hingga sisi perilaku manusia dalam menghadapi bencana.

Risiko pada Evakuasi Kebakaran Gedung Bertingkat

Pemandangan di lingkungan tempat tinggal kita mungkin tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Kita sekarang memiliki gedung pencakar langit yang begitu mencolok dan tinggi.

Namun dalam situasi darurat seperti kebakaran, desain gedung-gedung yang terlihat bagus dan bertingkat terkadang dapat menjadi petaka untuk kita, bahkan menjadi jebakan maut ketika terjadi bencana.

Pernahkah Anda mendengar tentang Safety engineering? Safety engineering atau rekayasa keselamatan adalah tentang merancang bangunan yang mengurangi efek negatif dari kecelakaan dan bencana.

Bangunan harus didesain sedemikian rupa sehingga waktu untuk melarikan diri lebih pendek daripada waktu yang dibutuhkan hingga bangunan runtuh. Ini sesuai dengan pendekatan standar pada bangunan besar dan kompleks di banyak negara, termasuk Inggris, AS, Jepang, Swedia dan Italia.

Evakuasi Kebakaran Gedung Bertingkat - Fire Exit

Tapi berapa lama untuk mengevakuasi sebuah gedung bertingkat? Tak hanya tergantung pada bangunan dan rute pelarian, namun juga pada bagaimana orang berperilaku.

Untuk memperkirakan waktu yang diperlukan bagi setiap orang untuk melarikan diri, telah dilakukan simulasi komputer di mana orang mengungsi setelah suatu insiden. Namun pada kenyataannya, simulasi itu tidak cukup baik.

Seperti yang telah dipelajari pada studi perilaku terperinci berdasarkan kebakaran dan serangan teroris, termasuk 9/11 dan kebakaran terowongan Mont Blanc tahun 1999 di mana 41 orang meninggal. Edukasi untuk berperilaku dalam evakuasi perlu dilakukan.

Tentu ini tidak mudah karena tiap orang akan membuat sejumlah keputusan yang berbeda. Seperti apakah dan kapan mulai bergerak, ke arah mana, apakah akan menghadapi orang lain, dan lainnya.

Setiap pilihan juga tergantung pada berbagai faktor berinteraksi satu sama lain. Apakah pembuat keputusan berani atau enggan mengambil risiko? Apakah ada asap di dalam ruangan? Seberapa jauh pintu keluar? Dan yang paling menarik untuk tujuan penelitian kami, apa yang dilakukan para pengungsi lainnya?

Perilaku Menggiring dalam Evakuasi

Bicara tentang perilaku, kita bisa menilik pejalan kaki di lampu merah. Semua orang diam menunggu lampu hijau sampai seseorang menyeberang lebih awal, dan kemudian tiba-tiba semua orang mengikutinya.

Hal ini bisa disebut “perilaku menggiring” atau yang biasa disebut Herd Mentality. Namun jika perilaku ini terjadi dalam evakuasi, itu bisa berbahaya. Perilaku ini dapat menciptakan kemacetan yang berlebihan di pintu keluar, memperpanjang durasi untuk keluar, padahal waktu sangatlah penting bagi semua orang untuk melarikan diri.

Semakin banyak pengungsi, semakin banyak yang kerumunan. Perilaku menggiring kerap dilakukan orang dalam keadaan darurat. Namun panik sering dijadikan kambing hitam untuk tragedi yang sebagian bisa dihindari.

Penelitian pun dilakukan untuk melihat seberapa umum perilaku menggiring terjadi dalam situasi darurat. Untuk melakukan ini, telah dibuat beberapa video realistis dengan situasi darurat yang berbeda.

Dalam setiap kasus menawarkan serangkaian pilihan antara dua pintu kepada pembuat keputusan. Pada penelitian tersebut, sekitar 1.500 peserta dari seluruh dunia turut berpartisipasi.

Evakuasi Kebakaran Gedung Bertingkat - Herding Behavior

Hasil penelitian menemukan bahwa dalam keadaan darurat, jika seorang dihadapkan pada dua pintu dan tidak ada orang lain di sekitarnya, mereka cenderung memilih satu pintu daripada yang lain. Namun, jika terdapat beberapa orang di dekat salah satu pintu, pengungsi lain akan mengikuti mereka.

Mereka justru memilih mengikuti kerumunan orang dibanding khawatir bahwa orang-orang itu mungkin memperlambat pelarian mereka. Melihat kerumunan orang dekat dengan pintu mungkin kira-kira sama persuasifnya seperti melihat tanda “pintu keluar” yang tergantung di sana.

Solusi untuk Evakuasi Kebakaran yang Tepat

Intinya adalah jika perilaku menggiring adalah norma manusia, harus adad solusi yang diterapkan untuk mencegah risiko ketika dalam proses evakuasi.

  • Bangunan yang Aman

Kita perlu membangun simulator dan kemudian membuat bangunan yang lebih aman dalam keadaan darurat. Desain bangunan harus mengikuti standar kemananan bangunan yang berlaku, sehingga tidak hanya melihat sisi estetikanya saja.

  • Fire Protection

Pada tiap bangun penting memiliki proteksi kebakaran. Mulai dari APAR, Fire Alarm, hingga hydrant. Sehingga, bencana kebakaran itu sendiri dapat dihindari atau bahkan kebakaran tidak membesar dan fatal.

  • Fire Drill

Evakuasi Kebakaran gedung Bertingkat - Fire Drill

Fire drill atau fire training perlu dilakukan secara berkala di berbagai lembaga, perusahaan, atau bagi penghuni gedung manapun. Banyak orang mengacuhkan simulasi dan training, padahal penting sekali agar semua orang teredukasi bagaimana caranya menghadapi kebakaran atau bencana dan melakukan evakuasi.

Namun, kita harus memahami orang seperti apa yang lebih rentan untuk memercayai keputusan para pengungsi lain. Selain itu juga bagaimana perilaku menggiring memengaruhi pilihan evakuasi lainnya.

Sumber: Modern buildings have an alarming flaw when people need to escape quickly.

Leave a Comment

0