Prosedur Instalasi Skema Hydrant Sesuai Standar SNI dan NFPA

Skema hydrant yang dirancang sesuai standar NFPA adalah langkah penting dalam menjaga keselamatan kebakaran. Dengan mematuhi standar ini, fire hydrant bisa memberikan respons yang cepat dan dapat diandalkan dalam situasi darurat.

Apa Itu Skema Hydrant, Kenapa Harus Sesuai Standar SNI & NFPA?

Fire hydrant system adalah sistem pemadam kebakaran yang menggunakan pasokan air bertekanan tinggi sebagai media pemadamnya. Dalam pemasangan fire hydrant di gedung, penting untuk memperhatikan skema hydrant sesuai standar.

Skema hydrant merupakan tata letak dan perancangan sistem pemadam kebakaran yang melibatkan pengaturan dan penempatan peralatan hydrant serta komponen pendukung lainnya dalam suatu bangunan atau area tertentu.

Rancangan skema hydrant dibuat untuk memastikan bahwa sistem pemadam kebakaran dapat bekerja secara optimal. Baik untuk mengidentifikasi, merespons, maupun memadamkan kebakaran dengan efektif.

Standar National Fire Protection Association ( NFPA) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi acuan utama dalam perancangan skema hydrant. Oleh karena itu, mematuhi kedua standar tersebut sangat penting.

Berikut adalah beberapa standar yang berkaitan dengan instalasi hydrant dari kedua lembaga tersebut:

  • SNI 03-3989-2000: Tata cara perencanaan sistem instalasi sprinkler dan hydrant pada bangunan gedung.
  • SNI 03-1742-2002: Tata cara perencanaan sistem instalasi hydrant pada bangunan gedung.
  • SNI 03-1745-2000: Tata cara perencanaan dan pemasangan pipa pemadam kebakaran untuk bangunan gedung.
  • SNI 03-1746-2000: Tata cara pemasangan hydrant box pada bangunan gedung.
  • SNI 03-1747-2000: Tata cara pemasangan hose reel pada bangunan gedung.
  • NFPA 14: Standard for the Installation of Standpipe and Hose Systems.
  • NFPA 13: Standard for the Installation of Sprinkler Systems.
  • NFPA 24: Standard for the Installation of Private Fire Service Mains and Their Appurtenances.
  • NFPA 25: Standard for the Inspection, Testing, and Maintenance of Water-Based Fire Protection Systems.
  • NFPA 291: Recommended Practice for Fire Flow Testing and Marking of Hydrants.

Kepatuhan terhadap standar SNI dan NFPA akan memastikan skema hydrant dapat diandalkan dan memberikan tingkat keselamatan yang tinggi. Ini melibatkan pemilihan dan penempatan peralatan sesuai risiko kebakaran yang mungkin terjadi.

Komponen Utama Skema Hydrant Beserta Fungsinya

Skema hydrant melibatkan beberapa komponen utama yang bekerja bersama untuk menyediakan sistem pemadam kebakaran yang efektif. Setiap komponen memiliki fungsi khusus dalam mendeteksi, merespons, dan memadamkan kebakaran.

Berikut adalah komponen utama skema hydrant beserta fungsinya:

1. Hydrant Utama (Standpipe)

Hydrant utama berfungsi untuk menyediakan sumber air utama dalam sistem hydrant. Komponen ini terhubung ke sistem penyedia air dan dapat memberikan aliran air yang cukup ke seluruh bangunan atau area tertentu.

2. Hydrant Sekunder (Outlet Hydrant)

Terletak di setiap lantai atau area khusus dan menyediakan titik akses air tambahan. Hydrant sekunder memungkinkan pemadam kebakaran untuk dengan cepat menghubungkan selang pemadam dan nozzle di area yang terkena kebakaran.

3. Box Hydrant

Box hydrant berfungsi sebagai kotak penyimpanan untuk perlengkapan pemadam kebakaran, seperti selang, nozzle, dan peralatan lainnya. Komponen hydrant ini melindungi perlengkapan tersebut dari cuaca dan kerusakan.

4. Hydrant Pillar atau Valve Box

Dua komponen ini berperan untuk memberikan akses yang mudah dan cepat ke untuk mengontrol aliran air pada hydrant utama. Hydrant pillar berada di luar ruangan, sedangkan valve hydrant berada di dalam ruangan.

5. Selang Pemadam dan Nozzle

Selang pemadam menyediakan saluran untuk mengalirkan air dari hydrant ke area yang terkena kebakaran. Nozzle dipasang di ujung selang dan mengontrol aliran air, membentuk semprotan yang efektif untuk memadamkan api.

Baca juga: Jenis Nozzle Pemadam Kebakaran dan Fungsinya

6. Hose Rack

Fire hose rack adalah alat untuk menyimpan selang pemadam agar lebih rapi dan tidak kusut. Ini memastikan selang pemadam mudah dijangkau dan dapat digunakan dengan cepat saat diperlukan.

7. Valve (Kran)

Komponen ini digunakan untuk mengontrol aliran dan tekanan air dalam sistem hydrant. Valve dapat diatur untuk membuka atau menutup akses air, memberikan kontrol yang tepat terhadap pemadam kebakaran selama operasi.

8. Pressure Gauge

Pressure gauge adalah alat yang menunjukkan tekanan air dalam sistem hydrant. Alat ini membantu memonitor apakah tekanan air berada dalam batas yang aman dan sesuai dengan kebutuhan sistem.

9. Hydrant Pump

Hydrant pump memiliki peran utama dalam memastikan tekanan air yang memadai dalam sistem hydrant, yang sangat krusial untuk memberikan respons yang cepat dan efektif terhadap kebakaran.

Ada tiga jenis hydrant pump dalam sistem hydrant, antara lain:

  • Jockey pump
  • Electric pump
  • Diesel pump

10. Control Panel

Komponen ini merupakan pusat kontrol otomatis yang mengelola dan memantau seluruh sistem hydrant. Panel ini dilengkapi dengan indikator, alarm, dan kontrol untuk memastikan bahwa sistem bekerja dengan baik.

Dasar-Dasar Perencanaan Skema Hydrant Standar NFPA

Perencanaan skema hydrant sangat penting untuk memastikan keefektifan sistem mengatasi potensi kebakaran. Berikut adalah dasar-dasar perencanaan skema hydrant standar SNI dan NFPA yang harus dipertimbangkan:

1. Penentuan Jenis Sistem Hydrant

Memilih jenis sistem hydrant harus sesuai dengan kebutuhan bangunan atau area tertentu. Standar SNI dan NFPA memberikan pedoman untuk sistem hydrant, termasuk hydrant pillar, hydrant dalam gedung (standpipe), atau kombinasi keduanya.

2. Pemilihan Lokasi Hydrant

Menentukan lokasi hydrant yang strategis dan mudah diakses oleh petugas pemadam kebakaran. Lokasi harus mempertimbangkan risiko kebakaran yang mungkin terjadi, serta memastikan akses yang cepat dan aman.

3. Kapasitas Air yang Dibutuhkan

Menghitung kapasitas air yang dibutuhkan untuk memadamkan kebakaran yang mungkin terjadi. Ini melibatkan perhitungan volume air yang cukup untuk menanggapi skenario kebakaran tertentu dengan tekanan yang memadai.

4. Jumlah dan Jenis Hydrant

Menentukan jumlah hydrant yang diperlukan sesuai dengan ukuran dan konfigurasi bangunan. Memilih hydrant dengan jenis yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan, seperti hydrant berdiri sendiri atau hydrant dalam gedung (standpipe).

5. Pemilihan Material dan Spesifikasi Teknis

Memilih material yang sesuai untuk pipa, hydrant, dan peralatan lainnya. Menentukan spesifikasi teknis yang memenuhi standar NFPA, termasuk ketahanan terhadap korosi dan suhu tinggi.

6. Perencanaan Penempatan Box Hydrant

Menentukan lokasi dan penempatan box hydrant, serta memastikan bahwa perlengkapan pemadam kebakaran di dalamnya dapat diakses dengan mudah. Box hydrant harus memberikan perlindungan terhadap cuaca dan kerusakan.

7. Klasifikasi Lingkungan

Memperhitungkan klasifikasi lingkungan di sekitar hydrant, seperti kemungkinan terpapar bahan kimia atau kondisi lingkungan yang ekstrem. Ini akan mempengaruhi pemilihan material dan peralatan yang digunakan.

8. Tekanan Air yang Dibutuhkan

Menentukan tekanan air yang dibutuhkan dalam sistem hydrant untuk memastikan aliran air yang memadai pada titik pemakaian. Ini melibatkan perhitungan tekanan minimum dan maksimum yang diperlukan.

Baca juga: Syarat Pasokan Air Fire Hydrant Menurut Standar SNI

9. Integrasi dengan Sistem Lain

Memastikan integrasi yang baik dengan sistem pemadam kebakaran lainnya, seperti sistem sprinkler atau alarm kebakaran. Hal ini diperlukan untuk menciptakan sistem yang terpadu dan responsif.

Ingin Memiliki Skema Hydrant Berteknologi Tinggi? Welmo Solusinya

Bicara tentang keamanan, memiliki skema hydrant yang andal dan berteknologi tinggi adalah suatu keharusan. Tidak hanya tergantung pada infrastruktur fisik semata, tetapi juga pada kemampuan untuk memantau dan mengontrol sistem secara efisien.

Inilah mengapa Welmo by Firecek hadir sebagai aplikasi inovatif untuk kontrol dan monitoring skema hydrant. Dengan Welmo, kamu bisa memantau kondisi skema hydrant secara real-time, terutama memonitor dari masalah kebocoran.

Aplikasi ini memanfaatkan sensor dan teknologi deteksi canggih untuk mengidentifikasi kebocoran pada sistem hydrant secara dini. Hal ini membantu mencegah kerusakan lebih lanjut dan mengurangi risiko kegagalan sistem.

Informasi mengenai kebocoran dapat diakses secara real-time melalui aplikasi, memungkinkan respons cepat terhadap situasi darurat. Notifikasi langsung juga dapat memberikan peringatan segera saat terjadi kebocoran.

Melalui teknologi tinggi yang diterapkan oleh Welmo, kamu dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan skema hydrant dan respons terhadap situasi darurat. Ini bukan hanya aplikasi, tapi juga investasi dalam keamanan dan perlindungan yang menyeluruh.

Dengan Welmo, kamu bisa meningkatkan kinerja sistem pemadam kebakaran. Hal ini merupakan langkah proaktif dalam menjaga integritas sistem dan mencegah risiko kebakaran yang tidak diinginkan. Tertarik pakai Welmo? Konsultasi DISINI.

Leave a Comment

0